EkonomiPemerintahanUmum

Gubernur Khofifah Pimpin Panen dan Tanam Tebu Serentak, Jatim Targetkan 54.897 Hektare Program Bongkar Ratoon 2026

245
×

Gubernur Khofifah Pimpin Panen dan Tanam Tebu Serentak, Jatim Targetkan 54.897 Hektare Program Bongkar Ratoon 2026

Share this article

BENERBARENG.IDMALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin kegiatan panen dan tanam tebu serentak Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu Tahun 2026 di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (18/6).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan panen dan tanam tebu yang dilaksanakan serentak di berbagai sentra produksi tebu di Jawa Timur. Selain Kabupaten Malang, pelaksanaan program juga berlangsung di Kabupaten Kediri, Magetan, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Mojokerto, dan Lamongan yang dipantau langsung secara daring oleh Gubernur Khofifah.

Menurut Khofifah, gerakan serentak tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung percepatan terwujudnya swasembada gula nasional.

“Hari ini kita tidak hanya melaksanakan panen dan tanam tebu, tetapi juga memperkuat fondasi dalam mewujudkan swasembada gula nasional,” ujarnya.

Sebagai provinsi penghasil gula terbesar di Indonesia, Jawa Timur saat ini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pada 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur tercatat mencapai sekitar 1,34 juta ton atau menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Atas capaian tersebut, Jawa Timur kembali mendapatkan kepercayaan dari pemerintah pusat untuk melaksanakan Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu Tahun 2026. Tahun ini, Jawa Timur memperoleh target Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare. Dengan demikian, total target yang harus dicapai mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Khofifah mengatakan, program bongkar ratoon difokuskan pada peremajaan tanaman tebu melalui replanting menggunakan bibit unggul yang didukung oleh Kementerian Pertanian. Langkah tersebut diyakini menjadi kunci peningkatan produktivitas lahan sekaligus produksi gula nasional.

See also  Sinergi UPT PPD, Bank Jatim, dan BUMDes Dorong Optimalisasi Pembayaran Pajak Kendaraan di Tulungagung

Ia menjelaskan, sejumlah varietas unggul seperti Bululawang (BL), NX 04, NX 03, NXI-4T, SGN 01, NX 02, dan NX 01 memiliki potensi hasil tinggi dengan produktivitas rata-rata di atas 110 ton per hektare, bahkan pada kondisi tertentu mampu mencapai sekitar 150 ton per hektare.

“Target ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap kapasitas dan kesiapan Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Khofifah menegaskan bahwa transformasi sektor tebu harus terus dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas industri gula agar semakin kompetitif.

Ia juga menyoroti potensi Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra tebu terbesar di Jawa Timur. Dengan luas areal tebu sekitar 41 ribu hektare dan didukung keberadaan PG Krebet Baru serta PG Kebon Agung, Kabupaten Malang dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri gula nasional.

Khofifah mengungkapkan bahwa Kecamatan Gondanglegi memiliki catatan historis produktivitas tebu yang sangat tinggi, yakni pernah mencapai sekitar 250 ton per hektare. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa peningkatan produktivitas dapat diwujudkan melalui penggunaan varietas unggul, dukungan teknologi, riset, serta kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah.

“Dengan dukungan teknologi yang semakin maju, laboratorium yang semakin canggih, dukungan perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian, saya rasa bukan sesuatu yang mustahil jika produktivitas tebu dapat terus kita tingkatkan. Gondanglegi pernah membuktikannya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyerahkan berbagai bantuan kepada kelompok tani di Kabupaten Malang. Bantuan tersebut meliputi pompa air, handtraktor, sarana produksi perkebunan, alat pengolahan kopi, alat pemotong rumput, hingga benih cengkeh untuk mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

See also  Gubernur Khofifah Buka Expo Konstruksi Jatim 2026, Sektor Jasa Konstruksi Didorong Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Selain produktivitas lahan, Khofifah menekankan pentingnya peningkatan rendemen gula yang dipengaruhi oleh kualitas bibit, proses budidaya, teknik penebangan, hingga pengolahan di pabrik gula. Karena itu, pendampingan petugas lapangan dinilai penting agar seluruh tahapan produksi berjalan sesuai standar.

“Selain kualitas bibit, proses penebangan dan penggilingan juga harus dikawal dengan baik. Karena itu pendampingan petugas lapangan menjadi sangat penting agar produktivitas dan rendemen dapat terus meningkat,” tegasnya.

Khofifah menambahkan, pembangunan sektor pergulaan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk memastikan perlindungan pasar bagi gula produksi petani. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga agar gula rafinasi tidak merembes ke pasar konsumsi yang menjadi ruang bagi gula hasil produksi petani.

“Kita membangun ekosistem pergulaan dari hulu sampai hilir. Produksi petani harus terlindungi sehingga mereka mendapatkan kepastian pasar yang sehat,” katanya.

Di akhir kegiatan, Khofifah mengingatkan bahwa sektor perkebunan akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, hingga tuntutan peningkatan daya saing global. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat kolaborasi, inovasi, dan gotong royong dalam membangun industri gula nasional.

“Saya optimistis, dengan kerja keras, inovasi, dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan, Jawa Timur akan terus menjadi penggerak utama tercapainya swasembada gula nasional serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat di bidang pangan,” pungkasnya. (XAP)