BENERBARENG.ID – JAKARTA, 24 Juni 2026 – Selama ini “jokes bapak-bapak” identik dengan lelucon sederhana, permainan kata yang mudah ditebak, bahkan sering dianggap garing. Namun sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa humor semacam ini memiliki manfaat nyata bagi kesehatan otak, suasana hati, dan hubungan sosial dalam keluarga.
Psikolog dan peneliti humor menjelaskan bahwa jokes bapak-bapak umumnya menggunakan permainan kata (pun), asosiasi sederhana, dan kejutan ringan yang membuat otak bekerja untuk memahami hubungan antara dua makna berbeda. Proses ini melibatkan kemampuan bahasa, kreativitas, dan pemecahan masalah yang merupakan bagian penting dari fungsi kognitif manusia.
Sejumlah studi neuroimaging menunjukkan bahwa saat seseorang memahami sebuah lelucon, berbagai area otak bekerja secara bersamaan. Tidak hanya pusat bahasa, tetapi juga area yang berkaitan dengan emosi, penghargaan (reward), dan kreativitas. Dengan kata lain, humor merupakan salah satu aktivitas mental yang cukup kompleks meskipun tampak sederhana.
Selain melatih otak, tertawa akibat humor juga terbukti membantu menurunkan tingkat stres. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa sesi tertawa dapat menurunkan kadar hormon stres kortisol secara signifikan. Penurunan stres tersebut membantu otak bekerja lebih optimal dalam mengelola emosi, fokus, dan pengambilan keputusan.
Para ahli juga menemukan bahwa tertawa memicu pelepasan berbagai zat kimia yang berkaitan dengan perasaan nyaman dan bahagia, seperti dopamin, serotonin, endorfin, dan oksitosin. Kombinasi zat-zat tersebut berkontribusi terhadap peningkatan suasana hati sekaligus memperkuat hubungan sosial antarindividu.
Dalam konteks keluarga, jokes bapak-bapak memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar hiburan. Penelitian mengenai perilaku tertawa menunjukkan bahwa manusia jauh lebih sering tertawa saat bersama orang lain dibandingkan saat sendirian. Tertawa bersama menciptakan rasa kedekatan, kehangatan, dan ikatan emosional yang lebih kuat di antara anggota keluarga.
Menariknya, penelitian terbaru mengenai hubungan ayah dan anak menunjukkan bahwa humor dan perilaku lucu yang sering dilakukan ayah berperan penting dalam membangun kedekatan emosional. Interaksi yang menyenangkan melalui candaan dan permainan membantu anak merasa aman, nyaman, serta memiliki ikatan yang lebih kuat dengan orang tua.
Pakar perkembangan anak dari Middlesex University, Jacqueline Harding, bahkan menyebut tertawa sebagai “latihan mental” yang mampu meningkatkan kreativitas, ketahanan emosional, serta kemampuan belajar. Menurutnya, lingkungan yang penuh humor dan kegembiraan dapat membantu perkembangan otak anak sekaligus menciptakan suasana yang lebih sehat secara psikologis.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa manfaat humor tidak berarti semua jenis lelucon selalu baik. Humor yang positif dan tidak merendahkan orang lain cenderung memberikan dampak sosial yang lebih baik dibandingkan candaan yang bersifat menghina atau menyinggung kelompok tertentu.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat, temuan ini menjadi kabar baik. Tidak diperlukan biaya mahal atau terapi rumit untuk mendapatkan manfaat awal dari humor. Terkadang, satu jokes bapak-bapak yang membuat seluruh anggota keluarga menggelengkan kepala sambil tertawa ternyata sudah cukup untuk membantu mengurangi stres, mempererat hubungan, dan membuat otak tetap aktif bekerja.
Jadi, lain kali ketika seorang ayah melontarkan candaan seperti “Kenapa ikan selalu diam? Karena kalau banyak bicara jadi ikan ngomong”, jangan buru-buru mengeluh. Bisa jadi, otak dan suasana hati Anda sedang mendapatkan manfaat kesehatan yang tak disangka-sangka. (OKZ)



