BENERBARENG.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan Lomba Kampung Pancasila 2026 pada Kamis (17/9/2026) malam. Kompetisi yang melibatkan 1.360 RW di 153 kelurahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat gotong royong, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, Lomba Kampung Pancasila menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, gotong royong dan sikap saling membantu merupakan kekuatan yang perlu terus dijaga di tengah masyarakat.
“Tujuan Lomba Kampung Pancasila itu adalah kembali lagi mengutamakan gotong royong seperti filosofi Pancasila. Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya,” kata Wali Kota Eri usai Launching Lomba Kampung Pancasila di Balai Kota Surabaya, Kamis (17/9/2026) malam.
Wali Kota Eri menilai berbagai persoalan sosial tidak dapat diselesaikan hanya oleh Pemkot Surabaya. Keterlibatan RT, RW, LPMK, hingga seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kota secara bersama-sama.
“Surabaya maju bukan karena wali kotanya, tapi karena warganya yang ditopang oleh gotong-royong yang menjadi ciri khas Pancasila. Siapa yang bisa menggerakkan adalah RT, RW, LPMK dan seluruh warga Kota Surabaya,” ujarnya.
Lomba Kampung Pancasila memiliki empat pilar penilaian, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya. Keempat pilar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi indikator dalam kompetisi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan masyarakat di setiap kampung.
“Insyaallah ketika itu berjalan, maka lingkungan juga akan terjaga, ekonomi akan bergerak, jiwa-jiwa sosial saling membantu akan bergerak. Karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan apa pun itu diselesaikan (sendiri) oleh wali kota,” katanya.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Surabaya juga menempatkan Perangkat Daerah (PD) sebagai pengampu kampung yang didampingi. Menurut dia, pemerintah tidak cukup hanya membuat kebijakan dan mengalokasikan anggaran, tetapi juga harus hadir serta memberikan contoh kepada masyarakat. “Jadi pemerintah kota itu harus menjadi bagian, bukan hanya memerintah, tapi bagaimana memberikan contoh. Karena itulah setiap PD menjadi pengampu,” kata dia.
Para PD pengampu nantinya bertugas memastikan empat pilar dalam program Kampung Pancasila berjalan. Empat pilar itu mulai dari kondisi lingkungan, pergerakan ekonomi, kehidupan sosial budaya, hingga gotong royong masyarakat. “Makanya pengampu itu akan menjaga kampungnya. Bisa tidak dia menjaga lingkungannya, (menjaga) ekonominya bergerak, (menjaga) sosial budayanya berjalan dan (menjaga) gotong royongnya berjalan,” tuturnya.
Pemkot Surabaya juga menyiapkan evaluasi terhadap kinerja PD pengampu. Wali Kota Eri menyebut, PD yang tidak mampu menjalankan pendampingan akan mendapatkan tanda evaluasi berupa bendera hitam.
“Karena pemerintah itu tidak hanya bertugas terkait anggaran dan lainnya, tapi bertugas mengembalikan bagaimana gotong royong, bagaimana jiwa-jiwa Pancasila itu dijalankan, bukan hanya dibaca pada waktu upacara, tapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Wali Kota Eri berharap Lomba Kampung Pancasila menghasilkan perubahan nyata di setiap wilayah. Perubahan itu mencakup aspek keamanan, lingkungan yang ramah terhadap anak dan perempuan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Saya berharap output dan outcome dari lomba Kampung Pancasila ini adalah perubahan kampung yang aman, kampung yang tidak ada pencurian motor, kampung yang bisa ramah anak dan perempuan, kampung yang sejahtera,” tuturnya.
Ia optimistis semangat tersebut dapat tumbuh karena sejalan dengan karakter masyarakat Surabaya yang memiliki budaya arek dan semangat gotong royong. “Insyaallah saya yakin itu bisa terwujud dengan kampung Pancasila. Karena sejatinya Surabaya memiliki budaya arek yang memang saling menolong dan saling gotong royong,” harapnya.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila tingkat kota sekaligus Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan, empat pilar menjadi basis utama penilaian Lomba Kampung Pancasila. “Lomba Kampung Pancasila basis penilaiannya pada empat pilar. Pertama terkait dengan pilar lingkungan, pilar kemasyarakatan, pilar ekonomi, dan pilar sosial budaya,” kata Irvan.
Pada pilar lingkungan, salah satu indikator yang dinilai adalah pengurangan sampah melalui pemilahan secara mandiri sejak dari sumbernya. Setiap rumah tangga diharapkan melakukan pemilahan sampah di tingkat RT maupun RW.
Kemudian pilar kemasyarakatan mencakup penguatan keamanan lingkungan. Indikatornya antara lain pengaturan jadwal keamanan, keberadaan CCTV, hingga upaya mewujudkan kampung bebas pencurian kendaraan bermotor.
Sementara itu, pilar ekonomi diarahkan pada kemampuan warga membangun kepedulian sekaligus kemandirian ekonomi. Salah satunya melalui identifikasi donatur maupun donasi untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan.
Menurut Irvan, kepedulian tersebut diwujudkan dengan mendorong warga yang mampu membantu warga lain yang membutuhkan. Geliat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi bagian dari penilaian. “Artinya, di level RT dan RW bagaimana warga yang mampu bisa membantu warga yang kurang mampu. Itu filosofinya,” tegasnya.
Adapun pilar sosial budaya mencakup berbagai aspek kualitas kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perhatian terhadap anak putus sekolah.
Irvan menjelaskan, Lomba Kampung Pancasila berlangsung mulai September hingga Desember 2026. Tahapannya meliputi sosialisasi dan technical meeting, peluncuran, pendaftaran online, seleksi administrasi, hingga verifikasi lapangan. “Jadi di tahapan itu ada launching, pendaftaran secara online dan seleksi administrasi,” terang Irvan.
Lebih rinci, Irvan memaparkan bahwa seleksi administrasi salah satunya mengacu pada data dalam aplikasi Sayang Warga. Para Ketua RT dan Ketua RW selama ini melakukan self assessment setiap bulan melalui aplikasi tersebut. Hasil self assessment menghasilkan scoring yang menjadi salah satu dasar penilaian.
“Dari proses penilaian dilanjutkan melalui verifikasi lapangan. Nah, verifikasi lapangan ini langsung dilakukan oleh tim juri dari perangkat daerah pemerintah kota, akademisi, media, dan praktisi,” tutur Irvan.
Setelah peluncuran Lomba Kampung Pancasila pada 17 September, tahapan dilanjutkan dengan Rapat Tim Juri Verifikasi Lapangan Tahap I pada 23 September 2026. Verifikasi lapangan tahap pertama berlangsung pada 24-30 September 2026.
Hasil verifikasi kemudian dibahas dalam Rapat Penentuan 500 Besar RW pada 2 Oktober 2026. Sebanyak 500 RW yang lolos akan diumumkan pada 5 Oktober 2026 untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Proses kemudian berlanjut melalui Rapat Tim Juri Verifikasi Lapangan Tahap II pada 19-20 Oktober 2026. Verifikasi lapangan tahap kedua sekaligus rapat penentuan 200 RW berlangsung pada 8-19 November 2026.
Sebanyak 200 RW yang lolos kemudian diumumkan pada 20 November 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 RW akan kembali diseleksi untuk masuk jajaran terbaik, sementara 165 RW lainnya mendapatkan bantuan masing-masing Rp10 juta.
Irvan menambhakan, penilaian 200 RW juga memperhatikan klasifikasi berdasarkan karakteristik wilayah. Selain itu, empat pilar tetap menjadi dasar penilaian dengan bobot berbeda. Pilar lingkungan dan ekonomi memiliki bobot 35 persen. Sementara pilar kemasyarakatan dan sosial budaya memiliki bobot 15 persen. “Semua pilar tetap saling mempengaruhi, tapi penilaian yang terbesar nanti berasal dari pilar lingkungan dan pilar ekonomi,” tutur Irvan.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Surabaya, Eddy Christijanto mengatakan, program Kampung Pancasila berangkat dari nilai-nilai yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat Surabaya.
“Sebenarnya kehidupan masyarakat di Surabaya itu nilai-nilai Pancasila sudah membumi. Ini bagaimana kita ingin bangkitkan kembali dalam bentuk semacam sistem sehingga masyarakat bisa melihat nilai-nilai Pancasila di Surabaya itu penerapannya seperti ini,” kata Eddy.
Menurut Eddy, keberhasilan program Kampung Pancasila tidak hanya dilihat dari penghargaan yang diberikan, tetapi dampaknya bagi masyarakat. “Yang penting kita ingin program itu semuanya dampaknya ke masyarakat, maju bareng, sejahtera bareng, sehat bareng,” ujarnya.
Dari 200 RW yang lolos, sebanyak 35 RW akan memperebutkan hadiah berdasarkan klasifikasi jumlah RT. RW dengan jumlah RT kurang dari tujuh akan mendapatkan hadiah juara pertama Rp25 juta, juara kedua Rp20 juta, dan juara ketiga Rp15 juta.
Sedangkan RW dengan jumlah RT tujuh atau lebih akan memperebutkan hadiah juara pertama Rp30 juta, juara kedua Rp25 juta, dan juara ketiga Rp20 juta. “Jadi dari 200 besar itu nanti diambil 35 besar. Nah, 35 besar itu nanti klasifikasinya RW itu ada yang jumlah RT-nya 7 atau lebih, ada yang RW jumlah RT-nya kurang dari 7,” jelasnya.
Adapun 165 RW lain dari 200 besar masing-masing akan mendapatkan bantuan sebesar Rp10 juta. “Jadi dari 200 RW tersisa 35 RW. Nah, kalau sudah masuk 200 besar masing-masing (165 RW) akan dapat bantuan Rp10 juta,” ujar Eddy.
Setelah pengumuman 200 RW pada 20 November 2026, rangkaian lomba berlanjut melalui roadshow di empat titik pada 22 November, 28 November, 29 November, dan 5 Desember 2026. Rangkaian Lomba Kampung Pancasila 2026 kemudian ditutup dengan agenda awarding pada 11 atau 12 Desember 2026.
Eddy berharap, Kampung Pancasila menjadi gerakan berkelanjutan dan tidak berhenti setelah kompetisi selesai. “Program Kampung Pancasila Insyaallah akan terus berlanjut siapapun wali kotanya, siapapun pejabatnya. Karena ini demi kebaikan seluruh warga Surabaya,” pungkasnya. (MHG)



