HukumPemerintahanPendidikanUmum

Gubernur Khofifah Luncurkan Prodi Magister Kajian Turats di UINSA, Pertama di Indonesia, Optimistis Jadi Referensi Keteduhan Islam Rahmatan Lil Alamin

368
×

Gubernur Khofifah Luncurkan Prodi Magister Kajian Turats di UINSA, Pertama di Indonesia, Optimistis Jadi Referensi Keteduhan Islam Rahmatan Lil Alamin

Share this article

BENERBARENG.ID – SURABAYA, 10 OKTOBER 2026  Menjelang puncak Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meluncurkan Program Studi Magister Kajian Turats di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Sabtu (10/10).

Tak hanya itu, Gubernur Khofifah juga menyerahkan Beasiswa Magister Kajian Turots Pascasarjana Uinsa secara simbolis kepada 10 mahasiswa penerima.

Program Studi Magister Kajian Turats UIN Sunan Ampel Surabaya ini merupakan program magister kajian turats pertama di Indonesia.

Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pelestarian, pengkajian, dan pengembangan khazanah keilmuan para ulama nusantara sekaligus menyiapkan generasi intelektual pesantren yang mampu mewariskan tradisi keilmuan Islam kepada generasi mendatang.

“Kehidupan keislaman yang moderat dan damai merupakan khazanah yang sangat penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat dunia,” tuturnya.

Karena itu, kehadiran Program Studi Magister Kajian Turats di UIN Sunan Ampel Surabaya diharapkan mampu memperkuat pengembangan referensi keagamaan yang tidak hanya mendalam secara keilmuan, tetapi juga menghadirkan keteduhan ketenangan, kesejukan, persatuan, dan kedamaian di tengah masyarakat.

Gubernur Khofifah menilai, turats dan manuskrip bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan ilmu, pemikiran, nilai, serta perjuangan para ulama yang mencakup berbagai disiplin keilmuan, mulai dari tafsir, hadis, fikih, tasawuf, sejarah, hingga bidang keilmuan lainnya.

“Maka penting menggali, merawat, dan mengembangkan khazanah keilmuan ulama Nusantara sebagai salah satu kekuatan peradaban Islam yang dapat menjadi referensi dunia,” imbuhnya.

Jawa Timur sendiri, dijelaskan Gubernur Khofifah, memiliki potensi besar untuk mengambil peran tersebut melalui tradisi pesantren, pemikiran ulama, serta nilai-nilai Islam moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Dirinya bahkan kerap menyampaikan pemikiran Prof Kishore Mahbubani salah seorang intelektual yang meraih gelar PhD dari Harvard University yang memiliki kajian keislaman yang luar biasa.

See also  Mardani Ali Sera Tegaskan Penghapusan Guru Honorer Tak Boleh Berujung PHK Massal

Dalam pemikiran yang disampaikan pada 2010 tersebut, Mahbubani memprediksi mengenai pergeseran pusat peradaban dunia yang terus bergerak dari Timur Tengah ke Eropa, Amerika hingga bergeser ke Asia.

Melihat prediksi tersebut, Gubernur Khofifah memandang Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran penting sebagai referensi dunia adalah Islam moderat, Islam toleran, Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Kalau kemudian yang menangkap peradaban dunia itu adalah Indonesia, dan kemudian kita persempit lagi di Jawa Timur, maka yang akan memberikan referensi dunia adalah Islam moderat, Islam toleran, Islam rahmatan lil ‘alamin. Sebab, sangat banyak intelektual berbasis pesantren di Jawa Timur yang luar biasa,” ungkapnya.

Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya bertumpu pada perkembangan intelektual Islam masa kini, tetapi juga pada warisan pemikiran para ulama Nusantara yang selama ini belum sepenuhnya digali dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Gubernur Khofifah menceritakan, gagasan untuk melakukan pelestarian naskah kuno ulama nusantara mulai menguat setelah dirinya dilantik pada Februari 2019.

Saat itu, Gubernur Khofifah mengunjungi sebuah pameran inovasi pembangunan daerah dan melihat demonstrasi penggunaan tisu serta bahan berbentuk jeli dari Jepang untuk membantu memperkuat kertas yang telah rapuh dan memunculkan kembali tulisan yang mulai sulit terbaca.

Pengalaman tersebut membuka perspektif baru baginya mengenai peluang penyelamatan manuskrip kuno, termasuk kitab-kitab karya ulama Nusantara yang tersimpan di pesantren dan berbagai tempat lainnya.

“Saya melihat ini sebagai peluang untuk menggali ilmu-ilmu para ulama Nusantara yang luar biasa, yang selama ini sudah terpendam, lapuk, dan membutuhkan penanganan agar bisa diselamatkan,” tuturnya.

Ia menyebutkan, kondisi naskah kuno di sejumlah daerah membutuhkan perhatian serius. Banyak karya-karya ulama yang disimpan di menara dan terpapar panas maupun hujan sehingga mengalami kerusakan.

See also  Gubernur Khofifah Perkuat SDM Jatim, 45 SMA, SMK, dan SLB Kini Lebih Modern dan Representatif

Kondisi serupa juga menjadi perhatian dalam upaya penelusuran naskah di berbagai pesantren di Jawa Timur.

Untuk itu, Gubernur Khofifah pun melakukan kunjungan langsung ke sejumlah pesantren untuk mengidentifikasi dan membangun kepercayaan dengan para pemilik naskah.

Mengutip pandangan KH Afifudin Muhajir, Gubernur Khofifah yang menekankan eratnya hubungan antara Nahdlatul Ulama dan Nahdlatut Turats sebagai upaya merawat warisan keilmuan para ulama.

“Kalau KH. Afifudin Muhajir menyebut, tidak ada Nahdlatul Ulama kalau tidak ada Nahdlatut Turats. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesinambungan keilmuan para ulama terdahulu,” ungkapnya.

Dari proses penelusuran tersebut, Khofifah menyampaikan bahwa pihaknya berhasil mengidentifikasi sekitar 400 kitab. Sebagian di antaranya kemudian menjalani proses digitalisasi, dengan sekitar 200 kitab telah didigitalkan.

Hasilnya juga disusun dalam bentuk ikhtisar untuk memudahkan akses dan pengenalan terhadap kandungan keilmuan naskah-naskah tersebut.

Khofifah mengungkapkan, ikhtisar hasil penggalian khazanah keilmuan itu pernah diserahkan secara langsung kepada Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb.

Di akhir, Gubernur Khofifah minta agar Turots yang tersebar di banyak pondok pesantren bisa memiliki Electronic/Online Surat Berharga Negara (e-SBN) sehingga setiap turats memiliki penomoran karya tulis.

“Saya melihat masih banyak karya turats yang diterbitkan tanpa dilengkapi e-SBN. Padahal, pencatatan dan identitas penerbitan sangat penting untuk menjaga keterlacakan karya, melindungi atribusi kepengarangan, serta memastikan bahwa pemikiran ulama yang diwariskan tidak diambil atau diterbitkan kembali atas nama pihak lain tanpa kejelasan sumbernya. Karena itu, pelestarian turats perlu disertai dengan upaya dokumentasi, digitalisasi, pendataan, dan penerbitan yang tertib,” pungkasnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Pascasarjana UINSA Prof Masdar Hilmy mengaku bahwa Uinsa Surabaya akan siap mengawal Prodi Magister Kajian Turats.

See also  Khofifah Lantik 128 Kepala Sekolah, Tekankan Peran Strategis Cetak SDM Unggul

Prof Masdar Hilmy mengaku, bahwa Prodi Magister ini hadir dilatarbelakangi oleh kepedulian sosok Ibu Gubernur Khofifah yang concern dunia keilmuan dan pelestarian turots di lingkungan Pondok Pesantren di Jatim sehingga dimunculkan di kampus UINSA.

“Jujur kami bangga karena Prodi ini murni ide dari seorang Ibu Gubernur Khofifah yang concern pada dunia keilmuan dan pelestarian turots,” ungkapnya.

“Kami siap hadir dan mengawal Prodi ini memberikan manfaat dan berkah untuk pesantren dan pendidikan di perguruan tinggi. Kita akan memaksimalkan dan mengawal Prodi ini,” tegasnya.

Pihaknya berharap, beasiswa Prodi Magister Kajian Turats bisa diberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin belajar pelestarian kajian kajian khasanah klasik yang mulai ditinggalkan.

“Kami berharap setiap tahun Pemprov Jatim dapat memberikan Beasiswa kepada minimal 10 orang dan kami siap menyukseskan manfaat dan maslahat Prodi untuk pondok pesantren dan pelestarian kajian kajian khasanah klasik yang mulai ditinggalkan,” pungkasnya. (MPF)