BENERBARENG.ID – JAKARTA, 17 Maret 2026 – Pemerintah menyatakan optimistis fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun ketegangan geopolitik global meningkat, terutama akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun di balik optimisme tersebut, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa tekanan eksternal mulai terasa pada beberapa sektor domestik, mulai dari nilai tukar rupiah hingga harga energi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa secara makro kondisi ekonomi Indonesia masih stabil. Menurutnya, dampak konflik global terhadap perekonomian nasional sejauh ini lebih banyak ditransmisikan melalui kenaikan harga komoditas energi seperti minyak dan gas.
“Walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid,” ujar Airlangga dalam acara diskusi bersama Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) di Jakarta, Senin (16/3).
Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang
Pemerintah menilai kekuatan utama ekonomi Indonesia masih berasal dari konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Aktivitas belanja masyarakat juga dinilai masih cukup stabil, tercermin dari Mandiri Spending Index Februari 2026 yang berada di level 360,7.
Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan ekspansi. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Februari 2026 tercatat 53,8, atau berada di atas level 50 yang menandakan sektor industri masih tumbuh.
Dari sisi eksternal, rasio utang luar negeri Indonesia tercatat 29,9 persen terhadap PDB, sementara cadangan devisa mencapai USD151,9 miliar atau setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor. Angka tersebut dinilai masih berada dalam batas aman untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Komoditas Ekspor Jadi Penyangga
Kinerja ekspor komoditas juga menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Pemerintah mencatat nilai ekspor dari berbagai komoditas seperti batu bara, nikel, karet, tembaga, hingga aluminium mencapai sekitar USD47 miliar. Angka ini membantu menutupi defisit sektor minyak dan gas yang mencapai sekitar USD19,5 miliar.
Di sektor pangan, produksi beras nasional pada 2025 tercatat 34,7 juta ton, meningkat 13,54 persen secara tahunan. Sementara itu, Indonesia juga mencatat surplus produksi solar sekitar 4,84 juta kiloliter, yang turut membantu menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Stabilitas Rupiah Jadi Tantangan
Meski sejumlah indikator ekonomi masih positif, dinamika global tetap memberikan tekanan pada pasar keuangan domestik. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko global.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia melakukan berbagai langkah intervensi di pasar keuangan. Salah satu strategi yang diperkuat adalah penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam perdagangan internasional dengan sejumlah negara mitra.
Nilai transaksi LCS Indonesia dengan negara seperti Malaysia, Thailand, Japan, dan China pada 2025 tercatat mencapai USD25,66 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
APBN Jadi Peredam Guncangan
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Sejumlah program stimulus disiapkan, termasuk bantuan pangan sebesar Rp11,92 triliun, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur negara serta subsidi dan kompensasi energi.
Hingga Februari 2026, pendapatan negara tercatat Rp358 triliun atau sekitar 12,8 persen dari target APBN, sementara belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 41,9 persen dari pagu anggaran. Defisit anggaran tercatat sekitar Rp135,7 triliun, atau sekitar 0,53 persen dari PDB.
Presiden Prabowo Subianto juga memberikan sejumlah arahan strategis untuk mengantisipasi dampak konflik global, di antaranya mempercepat ketersediaan energi, mendorong efisiensi konsumsi bahan bakar, serta menjaga disiplin fiskal agar defisit APBN tetap di bawah batas 3 persen dari PDB.
Perspektif Lain: Optimisme di Tengah Realitas Ekonomi
Sejumlah ekonom menilai optimisme pemerintah perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan dari ketidakpastian global. Konflik geopolitik tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga dapat berdampak pada aliran modal, stabilitas nilai tukar, serta inflasi.
Tekanan terhadap rupiah dan kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi industri dalam negeri. Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok juga dapat memengaruhi konsumsi domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, tingginya harga komoditas justru memberi keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir sumber daya alam. Kenaikan harga batu bara, nikel, dan logam lainnya berpotensi meningkatkan penerimaan ekspor sekaligus memperkuat neraca perdagangan.
Dalam konteks ini, ketahanan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh indikator makro, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga, memperkuat sektor riil, dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, arah kebijakan ekonomi pemerintah dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia benar-benar dapat bertahan di tengah tekanan eksternal yang terus berkembang. (WMX)



